Apa yang ingin aku cari dan gapai dalam hidup ini?

Apa yang ingin aku lakukan 5 tahun, 10 tahun, bahkan 15 tahun lagi?

Apa aku sudah puas dengan kehidupan ku saat ini?

Apa yang sudah aku peroleh selama ini?

Kapan aku akan nikah?

Kapan aku akan membahagiakan orang-orang terdekat ku?

Dimana aku akan tinggal 5 tahun lagi?

Bagaimana aku 5 tahun lagi?

Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang berhinggapan dikepala aku saat ini. Begitu banyak jawaban yang bermunculan juga. Akan tetapi semua yang ingin aku lakukan sudah aku rekam dan aku catat dalam planning hidup aku 5 tahun kedepan. Walau aku tau pasti ada beberapa part ada yang tidak mungkin terealisasikan, tapi yang mungkin bisa dilakukan saat ini hanya bersemangat dan menghadapi dengan senyumannya saja. Walaupun aku tau banyak dinding-dinding terjal yang bakal menghadang jalan ku, tapi kalo yang namanya semua dilakukan demi ibadah pasti terasa lebih ringan dan santai.

Hal yang selalu menarik dimata aku adalah masa depan dan agamaku. Masa depan yang aku inginkan 5 tahun lagi adalah kehidupan yang sederhana ntah kenapa dari dulu aku gak terlalu suka dengan kehidupan yang terlalu mencolok. Ntah kenapa dari dulu aku kurang begitu suka dengan suasana kota Jakarta tapi aku tetap memaksakan diri aku untuk bekerja dikota ini demi sesuap nasi belaka. Tapi setiap orang butuh uang untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya, tapi aku bukan tipe orang yang menjual dirinya dengan segepok uang. Bagi aku uang tidak bisa membeli rasa bahagia atau bahkan kehidupan aku. Tapi aku juga gak memungkiri bahwa uang merupakan hal pokok didunia ini. Uang juga bahkan bisa membahagiakan tiap orang tapi orang tersebut bukan aku. Kenapa aku yakin sekali aku bisa hidup bahagia tapi aku tidak ingin tinggal dikota Jakarta ini. Rasanya terlalu berat buat aku, tapi bukan berarti aku lemah.

Berat disini aku deskripsikan dengan aku gak mau membuat orang-orang yang aku sayangi menderita. Misalnya : aku pasti akan menikah sedangkan Jakarta itu terkenal dengan crowded dan traffic jam. Pilihan pertama jika aku bekerja punya uang yang banyak tapi anak-anak dan suami aku gak mendapat perhatian yang lebih. Ketemunya cuma malam, itupun dengan tubuh yang letih karena macet dijalan. Harus tidur cepet karena besoknya mesti pagi-pagi kekantor takut macet. Ntar siapa yang memasak, mandiin anak-anak aku ke sekolah. Mungkin bisa memanggil jasa babysister, tapi aku gak tega ngeliat anak aku kurang perhatian dari ibunya. Pilihan kedua jika aku tidak bekerja hanya menjadi ibu rumah tangga saja, disini masalahnya aku bisa gila aja ngebayanginnya. Soalnya aku itu hyper-active, gak bisa diem, selalu bersemangat. Kalo aku misalnya dirumah memasak, menunggu suami, menjemput anak, memakai daster dirumah sambil nunggu suami yang pulang kantor. Dan itu bakalan terjadi ampe 40 tahun mendatang, wah bisa gila jiwa dan otak aku. Dengan tidak ada aktivitas yang menarik dan menantang.Walaupun aku gak memungkiri ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang terpuji. Tapi setidaknya itu bukan jiwa aku banget. Aku butuh berinteraksi dengan orang luar, otak aku butuh berpikir dan mengeluarkan ide-ide, tenaga aku yang berlebihan butuh disalurkan.

Dan setiap keinginan dan cita-cita aku serahkan sama yang diAtas aja karena dia tau apa yang terbaik buat aku. Dia yang menghidupkan dan mematikan aku, Dia pasti nggak akan mengecewakan aku asal aku selalu percaya, berusaha, dan berdoa. Walaupun sebenarnya aku takut gak mampu menghadapi hari esok, tapi aku tau ada seseorang yang tetap setia dan menemani aku selamanya.Walaupun aku tau seberapa susahnya aku mengapai cita-cita, tapi aku tau dia selalu menemani setiap langkah ku. Walaupun aku selalu mengeluh tapi dia selalu mendengarkan dan menjadikan aku gadis yang tabah dan tegar. Walaupun aku selalu mencaci maki Dia kalo Dia gak memenuhi keinginan aku, aku yakin dia punya sesuatu terbaik yang dia kasih buat aku kedepannya.

Hanya dua kata yang bisa aku katakan TERIMA KASIH.